becoming fifth dimensional

Kesadaran dimensi kelima

 

Every fiber in my body recognizes this. A new becoming. It’s in the air, it’s definitely in collective consciousness of the millenials, it’s in every thought forms – feelings and hopes that each one of you have. Untraceable, undetectable but somehow “it” is becoming the “now”.
As if each particle and atom in the air vibrating in unity, opening a new dimension within our present one.

Dimensi keempat

Dimensi keempat ini adalah jembatan penghubung antara dimensi ketiga dan dimensi kelima. Sebetulnya manusia sudah menjejaki dimensi keempat ini dalam kehidupan sehari-hari tanpa disadari. Momentum dimana kita merasa terhubung dengan semesta, momentum clarity saat bermeditasi, saat-saat dimana kita merasakan sensasi kebahagiaan atau rasa bersyukur yang mendalam. Dimensi keempat ini sudah sempat kita alami dalam saat-saat tertentu yang menyentuh kalbu.

 

Di dalam dimensi ini,  waktu tidak lagi berjalan secara linear. Walaupun tidak bisa dijelaskan secara gamblang karena dimensi ini berada dalam ruang abstrak yang hanya bisa dicapai dengan naluri dan intuisi – bukan dengan tubuh fisik, hukum ruang dan waktu disini sangat berbeda. Masa lalu, masa sekarang dan masa depan menjadi fleksibel dan dapat dibentuk. Karena sifat dimensi keempat yang fleksibel dan tidak mengambil bentuk, tubuh astral manusiapun bisa berubah-ubah. Manifestasi dari keinginan/doa pun terwujud lebih cepat di dalam dimensi ini.

 

Dimensi kelima

Seluruh mahkluk di dalam dimensi kelima hidup dalam satu kesadaran spiritual, namun mereka masih memiliki eksistensi hidup sebagai individu. Dalam dimensi ini tidak ada ikatan ruang dan waktu, tidak ada dualitas paradigma,  tidak ada keterpisahan maupun keterbatasan. Semua tercakup dalam SATU.

 

Manusia di dimensi kelima ini hidup berdasarkan totalitas dalam cinta kasih, totalitas dalam memaafkan – tanpa mengharapkan balasan (entah penghargaan, pengakuan, maupun pahala) dan mampu bersikap netral – tanpa menilai apapun dan siapapun.
Untuk menembus dimensi ini, diperlukan penguasaan pikiran (thought form) dan energi positif (ketakutan, kecemburuan, kemarahan, rasa bersalah, kesedihan, perasaan cemas, gelisah, ke-tidakjujuran adalah semua sifat yang menimbulkan energi negatif). Pada situasi seperti itulah kepadatan dimensi ketiga benar-benar terasa. Dalam diri dan hati kita merasa berat, tidak mengalir ringan, dan pada saat itulah kita memiliki getaran atau frekuensi rendah.

 

Sedikit saja pemikiran/energi negatif terlontar, keberadaan anda bisa langsung anjlok ke dimensi yang lebih rendah. Wajar saja karena di dimensi ini apapun yang anda pikirkan atau inginkan dapat mewujud secara instan. Manusianya terbiasa untuk berkomunikasi secara telepati dan masing-masing memiliki kemampuan untuk membaca pikiran dan perasaan lawan bicaranya.

 

Source:  https://aligningwithearth.com/welcome-fifth-dimension/