becoming fifth dimensional

Kesadaran dimensi ketiga


Apakah yang dimaksud dengan dimensi?

Dimensi adalah ruang eksistensi yang memiliki frekuensi getaran yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Semakin tinggi tingkat dimensinya, semakin tinggi pula frekuensi getaran – dan semakin luas cakupan eksistensi keberadaanya. Dimensi yang lebih tinggi mencakup dimensi2 lain yang lebih rendah – seperti analogi  boneka matroyshka dari Rusia. Berlapis-lapis, boneka yang besar berisi boneka2 yang berukuran lebih kecil. Semakin tinggi tingkat dimensinya, semakin besar tingkat penguasaan energinya.


Kesadaran Dimensi Ketiga

Dalam konteks ini, dimensi ketiga yang dimaksud adalah benda2 di bumi yang dapat kita sadari keberadaannya secara fisik – dengan cara melihat, mendengar, mencium atau merasakan dengan indera peraba lainnya. Misalnya benda2 fisik disekeliling kita seperti rumah, mobil, pohon, asap, dsb

Dimensi ketiga adalah tempat dimana waktu dan tempat  berjalan secara linear dan bisa diukur, tempat dimana ada sebab-akibat, tempat dimana ada paradigma dualitas. Di dalam dimensi ketiga inilah roh manusia belajar memahami dirinya dan Sang Pencipta melalui ciptaan-ciptaanNya, memahami segala keterbatasan dan kelebihannya sebagai makhluk yang berakal.


Dimensi ketiga dianggap sebagai “sekolah” yang memungkinkan manusia untuk belajar dari sekitarnya karena energi di dimensi ini mampu untuk merefleksikan  apa yang individu tersebut butuhkan untuk belajar dan berkembang. Proses kreatif dengan memakai pikiran (thought energy) dan perasaan (feelings/heart energy) diperlambat untuk memungkinkan manusia mencermati pikiran2 dan perasaannya sendiri – karena di dimensi yang lebih tinggi, pikiran dan perasaan berinteraksi instan dengan proses kreatif untuk mewujud.


Sebetulnya dimensi ketiga adalah tingkat kesadaran yang sangat terbatas dan tidak fleksibel dibandingkan dengan tingkat kesadaran di dimensi lain yang lebih tinggi. Masyarakat di dimensi ini selalu membutuhkan pembuktian fisik (terlihat, terdengar, teraba, terkonsepsi secara fisik) sebelum meyakini suatu informasi/benda itu nyata.

Kepercayaan masyarakat bahwa dalam kehidupan ini semua sudah ada aturannya dan hidup dalam keterbatasan – yang sudah mendarah daging dan diajarkan turun temurun, merupakan faktor utama yang menjadi penghalang mereka untuk “naik kelas” atau  meraih kesadaran dimensi berikutnya. Seperti misalnya, pemahaman yang ditanamkan bahwa sebagai makhluk fisik,  kita harus selalu bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu. Atau bahwa waktu berjalan secara linear dan manusia tidak mungkin bisa menembus waktu.


** Kemampuan berkonsentrasi manusia semakin hari menjadi semakin pendek. Artikel ini sengaja dibagi beberapa bagian supaya bisa lebih mudah dicerna. Bite size is easier to chew, right?


Sumber dari: https://aligningwithearth.com/welcome-fifth-dimension/